KULIAH PAKAR "Meraih Partisipasi Untuk Akselerasi Gerak Pembangunan Bangsa" oleh Prof. Anies Baswedan Ph. D

Kuliah Pakar hari ini, 23 Oktober 2013 sekitar pukul 11.00 WIB di Aula FISIP UNS dengan pembicara Bapak Anies Baswedan. Beliau rektor Universitas Paramadina, sekaligus pelopor gerakan Indonesia mengajar.

Dalam kuliah tersebut, beliau menerangkan mengenai pendidikan. Pendidikan memang belum dianggap sebagai hal pokok di Indonesia, meskipun program wajib belajar sudah digalakkan. Inilah yang menyebabkan Indonesia tidak kunjung maju. Kita lihat saja Jepang, dengan Sumber Daya Alam yang tidak sekaya Indonesia, tetapi Jepang dapat mempunyai tingkat kemakmuran yang tinggi.Bayangkan dengan Indonesia, dengan kekayaan alam yang melimpah ruah, tetapi segala sesuatunya masih bergantung pada negara lain, kurang maju.

Sesungguhnya, penentu keberhasilan suatu bangsa bukan pada sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. Ketika sumber daya manusia berkualitas, ia akan memikirkan bagaimana memajukan bangsa yang bersangkutan dengan berbagai alternatif. Sedangkan ketika hanya kaya pada sumber daya alam dengan minimnya kualitas sumber daya manusia, bangsa tersebut tidak produktif.
"Pikirkan kualitas manusia, inilah jawaban untuk menang!" Inilah perkataan Bapak Anies Baswedan tadi.

Negara yang maju tidak mengeruk Sumber Daya Alam, melainkan negara yang mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas. Manusia merupakan aset terbesar suatu negara. Kualitas manusia tersebut diperoleh melalui pendidikan. Tetapi, pendidikan bukan merupakan hal yang paling penting (Di Indonesia).

Taukah Anda jumlah sekolah di Indonesia?
Saat ini, ada sekitar 170.000 SD di seluruh Indonesia. Dan sekitar 945 anak Indonesia menikmati bangku SD. Angka ini bisa dibilang baik, terkait sedikit dengan Negara Jepang dengan 98%.
Indonesia sebenarnya sudah cukup baik dibanding dengan yang lalu, maindset kita sebagai warga negara saja yang selalu beranggapan bahwa Indonesia hanyalah "kejelekan" semata. Baik disini, maksudnya adanya peningkatan dari jumlah warga yang buta huruf, dari awal kemerdekaan sekitar 95% dan sekarang hanya 8%

Bangku SMP. Jumlah sekolah di Indonesia tingkat SMP ada sekitar 39.000 sekolah dan pada jenjang SMA ada sekitar 27.000 sekolah.

Setiap tahunnya, sekitar 5.600.000 orang masuk SD. Sedangkan yang lulus SMA sekitar 2.300.000. Berarti, sekitar 3.300.000 hilang? Lantas siapa yang akan memikirkan, jika bukan generasi penerus? Dan setiap tahun, hanya sekitar 1,1 juta - 1,3 juta yang lulus dari Perguruan Tinggi.

Pendidikan bertujuan untuk mencapai Indonesia yang lebih baik. Mengapa melalui pendidikan? Karena Indonesia di masa mendatang akan dipimpin oleh wajah dari generasi saat ini.
Pendidikan harus menjadi strategi utama atau menjadi gerakan dalam pembangunan Indonesia yang lebih baik.

PROGRAMATIC VS MOVEMENT
Antara programatic dan movement mempunyai kesamaan, yaitu merupakan suatu pendekatan untuk menyelesaikan masalah dengan menyiapkan segala sesuatunya agar masalah dapat benar-benar diselesaikan.
Bedanya, pendekatan programatic mempunyai pandangan bahwa pihak yang mempunyai masalah yakni pihak yang membuat program. Sedangkan dalam pendekatan movement, menganggap bahwa masalah adalah milik bersama, sehingga harus diselesaikan bersama, tidak hanya oleh satu pihak saja. Oleh karena itu, dalam pendekatan movement akan muncul berbagai inovasi untuk penyelesaian. Contoh : masalah pendidikan di Indonesia sebenarnya bukan hanya masalah pemerintah saja, melainkan masalah milik seluruh warga Indonesia.

Dalam movement, semua akan merasa mempunyai tanggung jawab. Dalam merebut kemerdekaan dahulu, jika hanya beberapa pihak yang merasa butuh, maka kemerdekaan tidak akan di dapat. Oleh karena itu pula, pendidikan harus dipandang sebagai movement, bukan tanggung jawab pemerintah saja.
Contoh, melalui program Indonesia Mengajar yang dipelopori oleh Bapak Anies Baswedan, yang merekrut mahasiswa lulusan universitas untuk menjadi pengajar untuk memajukan Indonesia ke arah yang lebih baik. Pengajar yang sudah direkrut akan ditempatkan di tempat tertentu untuk mengajar selama satu tahun.
Selain Indonesia, di Solo pun sudah ada, bernama Solo Mengaar, bahkan di daerah lain.



[[ Bahwa tentang mengajar bukanlah suatu pengorbanan, melainkan suatu kehormatan yg tdk dimiliki semua orang utk membayar janji bangsa "mencerdaskan kehidupan bangsa". ]]
[[ Di setiap tweet yg Anda tulis terdapat pahala guru Anda. Karena guru Anda yg telah mengajari Anda menulis ]]

~ Dan hari ini sangat luar biasa, banyak motivasi dan pencerahan. Banyak sekali harapan yang muncul usai kuliah hari ini. Semoga harapan-harapan tersebut dapat tercapai, demi bangsa yang lebih baik melaului usaha-usaha, tekad, kerja keras, optimis, dan tak lupa berdoa. Aamiin.
~ Terima Kasih Motivasinya Bapak Anies Baswedan. :))

Penggolongan Kekuatan Politik

Golongan yang bermain di dalam mencari penyelesaian persoalan-persoalan yang dihadapi oleh sistem politik tidak lagi didasarkan pada militer dan non-militer, partai dan bukan partai. Akan tetapi, kekuatan politik dikategorikan ke dalam golongan ‘radikal’, ‘konservatif’, dan ‘moderat’.

Golongan Radikal menghendaki supaya jangan diberikan kesempatan kepada mereka yang berkolaborasi dengan rezim Orde Lama. Dalam menegakkan suatu kestabilan, hendaklah dilakukan oleh mereka yang bersih dari pengaruh Orde Lama. Pemuka dalam golongan radikal ini datang dari kalangan yang lebih condong untuk berpaling ke Barat dalam mengambil contoh untuk mengatur kehidupan politik dan ekonomi di Indonesia.

Golongan Konservatif lebih diwarnai oleh politik sipil juga menghendaki pembersihan terhadap sisa-sisa rezim Orde Lama, namun menghendaki peranan yang besar dalam politik Indonesia. Golongan ini menghendaki pembangunan yang benar-benar didasarkan kepada kekuatan modal dari dalam negeri. Golongan Konservatif melihat bahwa pengaturan masyarakat lebih baik menggunakan unsur yang terdapat di dalam masyarakat sendiri, serta pengambilan keputusan melalui musyawarah dan mufakat.

Sementara itu, Golongan Moderat lebih memilih suatu pengambilan keputusan melalui tradisi yang khas Indonesia. Sehingga pada waktu itu, secara tahap demi tahap Jenderal Soeharto memperkecil peranan politik Soekarno, yang kemudian dengan keputusan politik MPRS Maret 1967, peranan Soekarno berakhir. Begitu pula mengenai sistem kepartaian.

Kompromi kemudian menjadi dasar kehidupan kepartaian, yaitu disamping wakil partai politik duduk pula wakil golongan fungsional dan ABRI dalam lembaga perwakilan. Jenderal Soeharto menolak sistem dua partai seperti yang diusulkan oleh golongan radikal. Tetapi, dia juga tidak melihat kemungkinan yang baik dengan sistem banyak partai seperti yang dipertahankan oleh golongan konservatif. Lalu, kompromi yang diterima ialah pola empat fraksi : Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrasi Pembangunan, Golongan Karya, dan ABRI di dalam DPR dan MPR. Dan terlebih dahulu meletakkan dasar pembangunan lima tahun pertama, sehingga dalam pembangunan lima tahun kedua apa yang menjadi keberatan golongan konservatif terhadap ide-ide golongan radikal diperhatikan dengan memberikan fasilitas yang lebih banyak kepada usahawan pribumi serta memperbesar anggaran pembangunan sektor sosial.


Sumber :
Sistem Politik Indonesia "Kestabilan, Peta Kekuatan Politik, dan Pembangunan"
Karya : Drs. Arbi Sanit

Label: ,

Peta Kekuatan Politik

Sebagai kekuatan politik untuk merealisir Demokrasi Pancasila, ABRI harus memenuhi persyaratan pokok, yakni penerimaan dan kepercayaan masyarakat.

Masalah utama yang berkenaan dengan penerimaan masyarakat ialah bagaimana prosedur pengakuan itu berlangsung di dalam proses kehidupan politik. Sebab, sangat ganjil jika ABRI sebagai bagian dari eksekutif bersaing dengan partai politik yang swasta; di dalam suatu pemilihan umum sebagai sarana legitimasi kekuasaan politik.

Semenjak lumpuhnya politik Demokrasi Terpimpin, pandangan masyarakat mengenai partai menjadi kurang baik. Disamping peranan partai yang sudah merosot, muncul suatu anggapan bahwa partai adalah penyebab ketidakstabilan politik.

Suasana ini menimbulkan problema bagi ABRI. Pertama, bagaimana caranya untuk memperoleh legitimasi melalui pemilihan umum. Kedua, bagaimana bentuk organisasi yang akan mendukung ABRI. Dengan pertimbangan diatas didampingi oleh maksud untuk membangun, maka ABRI melihat bahwa lebih mungkin untuk bekerjasama dengan birokrasi. Keterikatan birokrasi terhadap struktur masyarakat tidak seerat antara ikatan partai politik dengan sifat dan struktur masyarakat. Lalu dengan melihat bahwa masyarakat terbentuk atas berbagi kelompok kepentingan, dibentuklah Golongan Karya.

Dengan demikian, berbagai kepentingan yang hidup dan tumbuh di dalam masyarakat Indonesia, disalurkan dan diwakili melalui suatu lembaga yang terorganisir dari pusat sistem politik, yaitu Golongan Karya.


Sumber :
Sistem Politik Indonesia "Kestabilan, Peta Kekuatan Politik, dan Pembangunan"
Karya : Drs. Arbi Sanit

Label: ,

Kestabilan Politik

Ketidakstabilan politik di Indonesia dapat dilihat dari kesempatan yang tersedia bagi setiap pemerintah atau kabinet untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Banyaknya demonstrasi, huru-hara, dan kekerasan politik menjadi bukti betapa rapuhnya kestabilan politik.

Ketidakstabilan politik disebabkan oleh belum melembaganya struktur dan prosedur politik yang mampu memberi tempat kepada masyarakat luas untuk mengambil bagian dalam sistem politik. Orang akan cepat setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa ketidakstabilan politik yang dialami oleh bangsa Indonesia memperkecil keleluasaan bagi negara ini untuk mengadakan perbaikan ekonomi, sosial, dan politik. Yang perlu dipersoalkan adalah stabilitas politik yang bagaimana yang akan diterapkan di Indonesia.

Stabilitas politik ditentukan oleh 3 variabel, diantaranya perkembangan ekonomi yang memadai, perkembangan pelembagaan (struktur dan proses politik), serta partisipasi politik. Dalam situasi “perkembangan ekonomi yang tidak diimbangi oleh perluasan partisipasi masyarakat, sukar diharapkan terpeliharanya kestabilan politik.

Di dalam pergantian sistem Demokrasi Konstitusional ke Demokrasi Terpimpin, sangat menonjol bahwa unsur pelembagaan prosedur politik sangat lemah. Belum melembaganya oposisi yang loyal, sistem berkompromi, dan bebasnya birokrasi dari pengaruh politik bersama-sama merupakan bahan untuk menuduh bahwa Demokrasi Konstitusional itu salah, yang kemudian diganti dengan Demokrasi Terpimpin.


Stabilitas politik perlu dibina, bukan hanya untuk menghindarkan sistem politik dari  pergantian pemerintah yang tidak wajar menurut konstitusi atau konsensus nasional, bukan juga untuk menjauhkan sistem politik dari revolusi dan kekerasan politik, melainkan untuk mendorong aspek positif dari stabilitas politik itu sendiri. Artinya, disamping mampu mampu melandasi perkembangan ekonomi, sistem politik hendaknya mampu membuka diri terhadap perubahan-perubahan yang tumbuh sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.


Sumber :
Sistem Politik Indonesia "Kestabilan, Peta Kekuatan Politik, dan Pembangunan"
Karya : Drs. Arbi Sanit

Label: ,

Penggolongan Kekuatan Politik

              Golongan yang bermain di dalam mencari penyelesaian persoalan-persoalan yang dihadapi oleh sistem politik tidak lagi didasarkan pada militer dan non-militer, partai dan bukan partai. Akan tetapi, kekuatan politik dikategorikan ke dalam golongan ‘radikal’, ‘konservatif’, dan ‘moderat’.
              Golongan Radikal menghendaki supaya jangan diberikan kesempatan kepada mereka yang berkolaborasi dengan rezim Orde Lama. Dalam menegakkan suatu kestabilan, hendaklah dilakukan oleh mereka yang bersih dari pengaruh Orde Lama. Pemuka dalam golongan radikal ini datang dari kalangan yang lebih condong untuk berpaling ke Barat dalam mengambil contoh untuk mengatur kehidupan politik dan ekonomi di Indonesia.
              Golongan Konservatif lebih diwarnai oleh politik sipil juga menghendaki pembersihan terhadap sisa-sisa rezim Orde Lama, namun menghendaki peranan yang besar dalam politik Indonesia. Golongan ini menghendaki pembangunan yang benar-benar didasarkan kepada kekuatan modal dari dalam negeri. Golongan Konservatif melihat bahwa pengaturan masyarakat lebih baik menggunakan unsur yang terdapat di dalam masyarakat sendiri, serta pengambilan keputusan melalui musyawarah dan mufakat.
              Sementara itu, Golongan Moderat lebih memilih suatu pengambilan keputusan melalui tradisi yang khas Indonesia. Sehingga pada waktu itu, secara tahap demi tahap Jenderal Soeharto memperkecil peranan politik Soekarno, yang kemudian dengan keputusan politik MPRS Maret 1967, peranan Soekarno berakhir. Begitu pula mengenai sistem kepartaian.
              Kompromi kemudian menjadi dasar kehidupan kepartaian, yaitu disamping wakil partai politik duduk pula wakil golongan fungsional dan ABRI dalam lembaga perwakilan. Jenderal Soeharto menolak sistem dua partai seperti yang diusulkan oleh golongan radikal. Tetapi, dia juga tidak melihat kemungkinan yang baik dengan sistem banyak partai seperti yang dipertahankan oleh golongan konservatif. Lalu, kompromi yang diterima ialah pola empat fraksi : Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrasi Pembangunan, Golongan Karya, dan ABRI di dalam DPR dan MPR. Dan terlebih dahulu meletakkan dasar pembangunan lima tahun pertama, sehingga dalam pembangunan lima tahun kedua apa yang menjadi keberatan golongan konservatif terhadap ide-ide golongan radikal diperhatikan dengan memberikan fasilitas yang lebih banyak kepada usahawan pribumi serta memperbesar anggaran pembangunan sektor sosial.

Sumber :
Sistem Politik Indonesia "Kestabilan, Peta Kekuatan Politik, dan Pembangunan" Karya Drs. Arbi Sanit

Label: ,

~ About Hope ~

Selamat Sore (pukul 16.13 WIB ini, hehehe)
Kali ini postingannya santai saja yaa :)

Kemarin, 8 Juni 2013 ~~ genap berusia 19 tahun. Memang bukan sweet seventeen lagi sih, tapi 'sweet' tidak mesti harus 17 tahun kok menurutku :) Saya bersyukur sekali masih bisa menghirup udara sampai usia yang sekarang.

Entah ada angin apa, Saya menjadi tertarik untuk mengambil tema ulang tahun kemarin ke dalam suatu 'tulisan' yang mungkin ini dapat menjadi kenang-kenangan suatu saat nanti.

Umur 19 tahun, berarti umur terakhir dalam kepala 'satu'. Tahun depan sudah menginjak 'kepala dua'. Dan berarti hal-hal yang ada di pikiran sudah tentu berbeda. Bukan mengenai kekanak-kanakan lagi, melainkan sudah harus berpikir jernih ke depan. Bukan tentang bersenang-senang belaka, tetapi memahami sebuah realita.

Berharap semakin bertambahnya umur, semakin beriman kepadaNya, bisa sesegera mungkin membahagiakan dan membanggakan orang tua, semakin bertambah dewasa..
Tidak lupa pula berharap untuk kelancaran pendidikan yang sedang Saya tempuh di salah satu PTN saat ini. Semoga lancar dan bisa lulus pada waktu yang tepat dan direncanakan.
Berharap ke depannya akan lebih baik..
~ Aamiin ~


Terima Kasih kepada teman-teman dan kerabat atas doa dan harapan yang diberikan kepada Saya kemarin. Saya bahagia memiliki teman dan kerabat yang mempunyai kepedulian seperti kalian.

SELAMAT ULANG TAHUN, Endras (*^^*)

Label: ,

Historical Overview of Public Administration

Large scale administrative organization has existed from early times. The ancient empire of Egypt, Persia, Greece, Rome, China, and later the Holy Roman Empire as well as recent colonial empires of Britain, Spain, Russia, Portugal, and France -- they all organized and maintaned political rule over wide areas and large populations by use of quite a sophisticated administrative appatatus and more or less skilled administrative functionaries.

The personal natures of that rule was very great. Everything depended on the emperor. The emperor turn had to rely on the personal loyalty of his subordinates, who maintaned themselves by the personal underlings, down to rank and file personnel on the fringes of the empire. The emperor carried an enormous work load reading and listening for petitions, policy arguments, judicial claims, appeals for favor, and the like in an attempt to keep the vast imperial machine functioning. It was a system of favoritism and patronage.

In a system based on personal preferement, a change of emperor disrupted the entire arrangement of government. Those who had been in favor might now be out of favor. Weak rules followed strong rules, foolish monarchs succeded wise monarchs -- but all were dependent on the army, which supplied the continuity that enabled the empire to endure so long. In absence of institutional, bureaucratic procedures, government moved from stability to near anarchy and back again.

Modern administrative system based on objective norms (such as laws, rules, and regulations) rather than on favoritism. It is a system of offices rather than officers. Loyalty is owed first of all to the state and the administrative organization. Members of the burreaucracy, or large, formal, complex organizations in the recent times, ar choosen for their qualification rather than for their personal connections with powerful person. When vacancies occur by death, resignation, or for other reasons, new qualified person are selected according to clearly defined rules. Burreaucracy does not die when its members die.

Label: ,

Defining Public Administration

When people think about government, they think of elected officials. The attentive public knows these officials who live in the spotlight but not to public administrators who make governing possible; it generally give them little thought unless it is to critize "government burreaucrats".

We are contact with public administration almost from the moment of birth, when registration requirement are met, and our eartly cannot be disposed without final administrative certificate. Our experiences with public administration become so extensive that our society may be labeled the "administered society".

Various institution are involved in public administration.
Much of policy making-activities of public administration is done by large, specialized govermental agencies (micro administration). Some of them are mostly involved with policy formulation, for example Parliament, or Congress.

But to implement their decision, public administration also requires numerous profit and non profit agencies, banks and hospitals, districts and city governments (macro administration).

Thus, public administration may be defined as a complex political process involving the authoritative implementation of legitimated policy choiches.

Public administration is not as showy as other kinds of politics. Much of its works is quite, small scale, and specialized. Part of the administrative process is even keep secret. The anthonymity of public administration raises fears that government policies are made by people who are not accountable to citizen. Many fears that these so-called faceless bureaucrats subvert the intensions of elected officials. Other see administrators as mere cogs ini machinery of government.

But whether  in negative or positive sense, public administration is policy making. And whether close to the centers of power or at the street level in local agencies, public administrators are policy makers. They are the translators and tailors the governments. If the elected officials are visible to the public, public administrators are anonymous specialist. But without their knowledge, diligence, and creativity, government would be ineffective and inefficient.

Label: ,

Leadership


Leadership atau kepemimpinan sebenarnya tidak ditentukan dari suatu jabatan yang dimiliki oleh seseorang, melainkan suatu kemampuan untuk memimpin orang untuk mengikuti apa yang telah direncanakan.

Teori tentang kepemimpinan seringkali ditemui dalam buku, seminar, dan lain-lain. Namun sesungguhnya sesuatu teori yang diketahui tidak akan dapat diperoleh manfaatnya ketika tidak diaplikasikan dalam kehidupan.

Sederhana saja, ketika seseorang mempelajari teori berenang, maka ia tidak akan bisa berenang ketika ia hanya membaca saja dan tidak berlatih secara terus menerus. Begitupun dengan leadership, tidak akan berpengaruh apa-apa ketika kita tidak melatih jiwa kepemimpinan kita dari sekarang.

Pemimpin adalah orang yang diibaratkan sebagai "orang yang difollow", seorang pemimpin akan menjadi panutan. Dalam benak seseorang tentunya ingin menjadi orang yang di follow, bukan sekedar orang yang mem-follow. Tapi, bagaimana agar kita bisa menjadi panutan??? Yaitu dengan memantaskan diri untuk menjadi orang yang bisa memimpin.

Bagaimana kita dapat menjadi panutan ketika datang ke kampus atau ke seminar sekalipun dan kita hanya memilih untuk duduk di pojok paling belakang??? Padahal sosok pemimpin selalu di depan. Cara pandang yang seperti itulah pantas untuk diubah menjadi cara pandang seorang pemimpin.

Pentingnya memiliki sikap kepemimpinan dapat dilihat dari VUCA.
Teori "VUCA" yang merupakan singkatan dari Vollantility, Uncertaintly, Complexity, dan Ambiguity.
Vollantility berarti perubahan yang terjadi secara terus-menerus secara alami, dan bisa terjadi karena perkembangan zaman. Misalnya di lagu "Bangun tidur ku terus mandi", sekarang setiap bangun tidur mayoritas dari seseorang tidak langsung mandi, malah langsung buka BBM.
Uncertaintly berarti tidak pasti. Hidup penuh dengan ketidakpastian, sehinnga orang harus senantiasa kreatif untuk menghadapi esok hari berserta perubahannya dengan siap.
Complexity, hidup pada dasarnya merupakan sesuatu yang kompleks.
Sedangkan Ambiguity berarti ambigu, atau dapat berupa multitafsir dalam segala hal.

Sehinnga pada dasarnya, hal-hal yang tidak pasti dalam teori VUCA dapat diatasi ketika orang memiliki jiwa kepemimpinan dan percaya diri.

Kepemimpinan merupakan kombinasi dari strategi dan karakter, sehingga ketika seseorang telah mengasah karakternya, ia akan mencari strategi untuk menciptakan suatu peluang, bahkan untuk menjadi seseorang yang beda. Menjadi beda memang penting, namun beda yang dimaksud tetap beda tetapi tetap melaksanakan sesuatu dengan benar.

Mengasah kepemimpinan ini dapat dilakukan dengan BELAJAR, BERANI, dan BELAJAR SAMBIL DIJALANI.

More Lesson, More Practice


(seminar leadpreneurship 200413, dengan pengembangan)

INFRASTRUKTUR: Pemerintah Siapkan Rp203,9 Triliun Bangun Infrastruktur


SOLO – Pemerintah melalui anggaran belanja dan pendapatan negara (APBN) siap menggelontor dana hingga Rp203,9 triliun untuk pembangunan infrastruktur tahun 2013. Sementara, total anggaran yang diperlukan mencapai Rp438,06 triliun.
Pembiayaan pembangunan infrastruktur itu juga mendapat dukungan dari investasi swasta yang diproyeksikan tahun ini mencapai nilai Rp60,2 triliun. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Armida S Alisjahbana, menyampaikan meskipun investasi infrastruktur mengalami peningkatan dari tahun ke tahun namun belum mencapai tingkat investasi sebelum krisis tahun 1997.
Dia mengatakan, pembangunan infrastruktur di Indonesia masih jauh di bawah kondisi yang diperlukan. Bahkan, satu tahun setelah krisis 1998 nyaris tidak ada pertumbuhan di bidang ini.
“Selama ini, perawatan atau maintanance infrastruktur masih sangat kurang. Minimnya regulasi menjadi salah satu pemicunya,” kata Armida, kepada wartawan, di sela-sela Seminar Nasional Pembangunan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Dalam RPJMN 2015-2019, yang diselenggarakan di FE UNS, Jumat (15/3/2013).
Dia menilai pasca otonomi daerah, pembangunan infrastruktur menjadi banyak yang timpang dan tidak merata. Salah satu contohnya adalah kondisi jalan nasional dengan jalan provinsi dan kabupaten/kota. Dia mengatakan, saat ini 90% jalan nasional dalam kondisi baik. Tetapi, jalan provinsi yang dalam kondisi baik hanya 50% dan jalan kabupaten 40%.
Armida melanjutkan, dengan sistem pemerintahan yang ada saat ini maka yang menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan infrastruktur adalah bagaimana menciptakan suatu sistem perencanaan pembangunan infrastruktur nasional yang dapat memadukan program nasional, regional dan lokal. Mekanisme pembiayaan, lanjut dia, juga menjadi isu penting.
“Bagaimana cara terbaik menggunakan dana yang sangat terbatas,” kata dia.
Seperti diketahui, porsi belanja modal dalam APBN sangat minim hanya sekitar 8,1%. Dengan kondisi ini pula, maka peran swasta dan masyarakat juga perlu ditingkatkan.
“Ini butuh terobosan. Maka kami menggandeng universitas untuk mencari solusi dan usulan bagaimana terobosan itu bisa terwujud. Salah satunya dengan UNS.”

Sumber : http://www.solopos.com/2013/03/15/infrastruktur-pemerintah-siapkan-rp2039-triliun-bangun-infrastruktur-388196?fb_action_ids=640733329286626&fb_action_types=og.likes&fb_source=timeline_og&action_object_map=%7B%22640733329286626%22%3A497910116938558%7D&action_type_map=%7B%22640733329286626%22%3A%22og.likes%22%7D&action_ref_map=%5B%5D

Label:

"Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras bisa menyesatkan.." 
"Jangan pula tertarik pada kekayaannya, karena kekayaan bisa musnah.."
"Tertariklah pada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyumlah yang dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah.."

Label:


“Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.” 

--Tere Liye, novel "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin"

Label:

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah.

Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.

--Tere Liye, novel 'Daun yang jatuh tak pernah membenci angin'

Label:

Pada suatu hari "Kematian" dan "Kehidupan" bertemu satu sama lain, lantas mereka ngobrol: 

Kematian : "Kenapa orang2 itu menyukai kamu, tapi mereka amat membenci aku?"  

Kehidupan (menjawab sambil tersenyum) : "Orang-orang menyukaiku karena aku adalah 'dusta yang indah', sedangkan mereka membencimu karena kamu adalah 'kebenaran yang menyakitkan'."

Label:

"Kita harus berani membuat terobosan. Jangan rutinitas. Jangan monoton. Harus ada perubahan, ADA INOVASI.. 

(jokowi)

Label:

Presentasi Dadakan EAP 211212 *Minority Group and Religious Unrest*

The persecution and harassment of the Ahmadiyah and other religious minorities in Indonesia have not yet been addressed and President Susilo Bambang Yudhoyono has put this problem on the back burner. The Myanmar government is not doing anything to resolve the problems facing the Muslim Rohingya.

Indonesia and Myanmar should learn from Vietnam. The Vietnamese government has not alienated any ethnic tribe in the country, and a good example of this comes from its treatment of the ethnic Hmong mountain tribes.

According to the English-language newspaper Vietnam News (Dec. 16) this ethnic nomadic tribe with their slash and burn agricultural techniques, have now settled in homes built for them by the government in mountainous regions in an effort to stop their agricultural techniques from destroying rainforests. The government has also allocated farmlands for each family.

Infrastructure was put into place enabling these people to easily reach nearby villages for their shopping. The military helped to improve their agricultural skills and now the Hmong tribes live peacefully, working hard on their farmlands. They are not suffering from hunger and malnutrition anymore. They are also allowed to practice their own religion i.e. Shamanism and worshipping the spirits of their ancestors.

Indonesia and Myanmar should follow the example of Vietnam. Although 85 percent of the population in Vietnam are Mahayana Buddhists, almost 10 percent are Christians (Roman Catholics, Protestants and Russian orthodox) with the rest either Muslim, Hindu, Cao Dai or Hoa Hao. No religious discrimination is allowed by the government and no religious unrest exists.

Each religious group is allowed to practice their own beliefs.

Label:

Laron Yang Rendah Hati


Sejenak kita amati perilaku hewan dimusim hujan ini untuk dijadikan pelajaran dalam perilaku kehidupan agar kedepan lebih baik. Laron adalah hewan tersebut yang layak kita amati, laron yang hanya muncul pada musim penghujan ditengah penantian panjang dimusim kemarau.
Laron adalah rayap yang telah bersayap dan keluar dimusim hujan untuk mencari pasangan hidup guna melahirkan rayap-rayap generasi penerus mereka. Yang unik laron-laron beterbangan mencari cahaya lampu-lampu malam dan cenderung memilih cahaya lampu yang paling terang diantara lampu-lampu.
Cahaya ada dua makna cahaya sebagai bentuk Nurillah (cahaya kebenaran Tuhan) dan juga cahaya sebagai bentuk kekuasaan. Laron-laron senantiasa mencari cahaya terang bila ada yang lebih terang lagi laron akan berpindah kecahaya tersebut. Kenekatan keberanian dalam mendekati cahaya lampu tersebut derasnya hujan hingga kematian mengancam dirinya laron-laron tetap maju hingga dapat menggapai cahaya paling terang.
Namun ketika telah mencapai cahaya paling terang tersebut, laron-laron berjatuhan dan sayapnya rontoh, berjalan kembali kekubangan tanah liat untuk melahirkan generasi penerusnya,dan tidak ternbang lagi menggapai cahaya tersebut karena dia menyadari dirinya tak kuat dan tak bersayap lagi.
Ada dua hikmah dalam perilaku laron-laron tersebut untuk patut kita teladani yaitu:
Pertama dalam mencari cahaya kebenaran/kebaikan senantiasa mencari cahaya yang paling terang dari cahaya yang ada bukan mencari cahaya yang redup. Semangat berani menerjang badai bahkan rela mati dalam menggapai cahaya tersebut.
Sebagai manusia tentulah ingin menggapai sebuah cita-cita yang diangan-angankan,dalam menggapainya tentulah harus dengan kesungguhan hati pantang menyerah hingga meraih cita-citanya. Seabagaimana kegigihan laron-laron menggapai cahaya lampu.
Kedua ketika laron-laron menggapai cahaya tersebut, terjatuh dan tidak rakus untuk terbang lagi menggapainya namun mempersiapkan generasi penerusnya untuk menggapainya kelak.
Cahaya sebagai perlambang kekuasaan, hendaknya ketika meraihnya dengan ketulusan dan kesungguhan akan tetapi ketika telah meraihnya tidak rakus untuk meraihnya kembali namun mempersiapkan generasi penerus pemimpin bangsa untuk meraihnya, karena harus menyadari dirinya sudah tidak mempunyai sayap-sayap kepiawaian, ketegaran dan kecerdasan untuk meraih dan mengemban kekuasaan tersebut.
Laron-laron yang rendah hati tersebut hendaknya jadi tauladan bagi kita untuk senantiasa meraih cita dalam hidup. Dan juga jadi contoh bagi politikus negeri ini agar tidak rakus meraih kekuasaan lagi karena sayap-sayap mereka telah rapuh dan rontok dan tak akan mampu membawa negeri ini kearah yang lebih baik, namun akan sebaliknya akan terpuruk kejurang kesengsaraan.
Sudah saatnya cahaya kekuasaan negeri ini diraih oleh laron-laron yang baru lahir yang sayap-sayapnya kokoh dimusim penghujan perpolitikan negeri ini, bukan laron-laron musim hujan politik yang lalu yang telah rontok sayapnya.
Sedikit coretan penuh bahasa kias dan teka-teki semoga bermanfaat.

From : http://coretanpenaku.blogdetik.com/2012/coretan-opini/laron-yang-rendah-hati/


REPORT OF OJT


FINAL TASK REPORT OF ACCOUNTING DEPARTMENT
SCHOOL YEAR 2011 / 2012



OPERATING CASHIER MACHINE
IN
CARREFOUR SOLO BARU





  
NAME                                                      : ENDRASWARI ESKAMURTI
NIS                                                            : 10773
COMPETENCE PROGRAM                 : BUSSINESS MANAGEMENT
SUB COMPETENCE PROGRAM        : ACCOUNTING DEPARTMENT



State Vocational School 6
SURAKARTA
2011




RATIFICATION
OPERATING CASHIER MACHINE
IN
CARREFOUR SOLO BARU


This report has been examined by the board of examiners of State Vocational School 6 Surakarta and approvedfulfilled final task report.


Board of examiners.

Consellor,


Stephanus Kristiawan Wahyu W, S.Pd.
NIP. 19800909 200902 1 006
Class Guardian,


Dra. Marchamah
NIP. 19540706 198103 2 007



Surakarta, 10 September 2011
Accounting Department
State Vocational School 6 Surakarta
Head of Accounting Department



Dra. Maria Irene Karyani, M.Si.
NIP. 19610405 198803 2 006




PREFACE


All of praises ; honours ; and glory only belong to God, The All Merciful, because only by His grace, the writer can finish the final task report.
By this report, the writer would like to thank to :
  1. Dra. Hj. Sri Supartini, MM., as a Principal of State Vocatonal School 6 Surakarta.
  2. Dra. Maria Irene Karyani, M.Si., as the Head of Accounting Department.
  3. Drs. Subardo, as leader from State Vocatonal School 6 Surakarta to Carrefour Solo Baru.
  4. Dra. Marchamah as the class guardian of XII Accountng I.
  5. Stefanus Kristiawan Wahyu Wijayanto, S.Pd. as the consellor.
  6. Jarot Nugroho, as the Personal Head of Carrefour Solo Baru.
  7. All of employers who can receive the writer in Carrefour Solo Baru.
  8. My parents who have supported the writer.
  9. All of people who can’t written their name one by one.
The writer believes that this report is far from being perfect, so the writer accept suggestions and constructive criticism from all readers. So, the writer hopes that this report can be useful for us.



Surakarta, 10 September 2011

                                                                             Writer.





TABLES OF CONTENTS


TITLE                                                            ……………………………    i
RATIFICATION                                          ……………………………    ii
PREFACE                                                     ……………………………    iii
TABLES OF CONTENTS                          ……………………………     iv
CHAPTER I. INTRODUCTION   
                        A. Background                       ……………………………    1
                        B. Objectives                          ……………………………    1
CHAPTER II. PRODUCTION PROCESS
                        A. Time and Place                   ……………………………    2
                        B. Material and Equipment     ……………………………   2
                        C. Theoritical Review             …………………………….   3
                        D. Scheme of Work                ……………………………    4
                        E. Mention of Work                ……………………………    4
                        F. Result                                  ……………………………    5
CHAPTER III. FINDING
                        A. Implementations                …………………………….   6
                        B. Benefits                              ……………………………    6
                        C. Improvement                      ……………………………   7
CHAPTER IV. CLOSING
                        A. Conclusions                        ……………………………   8
                        B. Suggestions                        ……………………………   8
REFERENCES                                            …………………………......   9
APPENDICES                                              ……………………….……   10




CHAPTER I
INTRODUCTION

A. Background
            Life very difficult without many skills and experience. So, we can choose the vocational school for our school, because the vocational school give many knowledges and experiences in business world from on The Job Training.
            On The Job Training is a practice in world of work, and it was done by students in vocational school.
            The student of vocational school must do On The Job Training to train their sklls  in applying their theory of vocational. In Job Training, the students get many knowledges about business world, it was very urgent to enlarge the experience before working in the next time. And Carrefour Solo Baru is one of relations to do Job Training from State Vocational School 6 Surakarta.
            The report of On The Job Training must be written by student. And  choose “OPERATNG CASHIER MACHINE” as title of this report.

B. Objectives
     1. The aims of On The Job Training in business world are :
         a.  To introduce the students about the bussness world.
         b. To apply the theory in real activity in business world.
         c. To enlarge student’s knowledges.
         d. To increase the experience n business world.
         e. To prepare the students to be ready work after pass the school.
     2. The report was written to :
         a. As evidence if the student have done The Job Training.
         b. To know about result of On The Job Training.
         c. To enlarge the knowledges about the manner of work in business work.
         d. Become requirement the final test.




CHAPTER II
PRODUCTION PROCESS

A. Time and Places
            The implementation of Job Training had been done on 3rd January until 28th February 2011. It had been done on Carrefour Solo Baru, Palem Raya Street No.234, Blok DA Solo Baru. Phone : (0271) 625150, (0271) 625170.
            The student did Job Training from 8 am until 3 pm  or from 3 pm until 9 pm. The student have free tme once a week, and it is different from one student and other.

B. Materials and Equipment
     The materials to do On The Job Training in Carrefour Solo Baru are :
1.      Cashier puck up report.
2.      Sales cancellation daily report.
3.      Credit / debit card payment logbook.
     The equipment to do On The Job Training in Carrefour Solo Baru are :
1.      Pen.
2.      Calculator.
3.      Paper roll.
4.      Cashier Machine.
5.      Printer.
6.      Scanner.
7.      EDC Machine.

C. Theoritical Review
     1. Definition
                     Definition of operating in dictionary of Indonesian language is process or manner of functioning. And then, Cashier Machine is a electrical machine which have function to do register and calculate of sales transaction in the shop (http://fastechindo.blogspot.com).
                     The conclusion result of operating cashier machine is a process to operate the machine which can calculating and recording a sales transaction which occur in the shop, or other place.
   2.   How to Operate Cashier Machine
         The manner to operating cashier machine are :
         a. Press C to unlock the machine.
         b. Take the things and then scan the barcode of things from the basket,
             one by one.
         c. After scan of all, press sub total to know the amount of all the
            things.
         d. Press the amount which is paid by customer and press cash if it a
             cash transaction.
If it use a debit or credt card, we must swift the card in EDC Machine, and then press the amount of sales. After it write the amount in cashier machine, press the button which match the card and swift the card in cashier machine.
If it use voucher, we can press the amount in that voucher in cashier and press the button which have name the voucher (according the voucher is used) and then press enter.
            e. Take the struck of sales or paper in top of printer.
            f. If the costumer have the remainder, give it to them with the struck.
            g. And if the machine had operated, we can press C to lock the
                machine again.

D. Scheme of Work

Customer

Take The Things

Pay Them     (cash, card, or voucher)

  The Customers can bring the thing after pay.                    



E.   Motion of Work

1.      Customers are people who need many requisites, so they also shopping to complete their requisites.

2.      Take the things in shop.

It is means the customers can take the things which become their requisites in that shop. They also can choose and take it, and must pay it in cashier.
3.      Pay them.
The customers must pay the things which they take. It is can use :
a.       Cash à It us use a cash of money, not card, and not voucher.
b.      Card à It is use debit/ credit card, and it can be used in EDC Machine.
c.       Voucher à It is use a voucher to pay. The voucher in Carrefour Solo Baru are a Carrefour Solo Baru and Sodexso Voucher, they have many amount differently.
The customer usually get the voucher to shopping from the Bank which have relations with the shop, or from the shop (example : as reward of lottery).
4.      The customer can bring the things.
After paying in cashier, the customers can bring the things to go home, and their requisites have been complete, or they can get their requisites.

F.  Result
The Cashier Machine functions are :
  1. To calculating a sales transaction in shop, and can print the amount of sales which must pay.
  2. The result of operating cashier machine is a report, such as :
a.       Cashier pick up result, it used to reporting the amount of sales in a transaction before we report the total in the last of sales.
b.      Sales cancellation daily report, it used to write a cancellation of transaction in that shop in this day.
c.       Debit or credit card payment logbook, it has function to write the transaction which uses the credit or debit card.
And all of the report must be reported to responsibility as cashier.




CHAPTER III
FINDING


A.  Implementation
     1. Proponen factors :
a.       Guidance from teachers and industry world.
b.      The feel of responsibility and diligent’s students.
c.       The feel of comfortable’s students.
d.      Good coorperation between teacher, attendance, and helper.
e.       The abidience to arrangement.
f.       Well preparation.
g.      Relations are good between the student and the staff/ employers in the business or industry world.
h.      The desire of students to know and understand about the job in OJT’s place.
   2.   Inhibiting factors :
a.               The job not suitable with competence’s students.
b.  Doing a fault when OJT.
c.       Confidence of students are less.
d.      Relations of students and the employeer are worst.
e.       The electricity in OJT’s place sometimes die.
f.       Feeling nervous when served the customers.
B. Benefit
    The benefit from Job Training are :
1.      Knowing the way of work in company, especially n Carrefour Solo Baru.
2.      Applying theory from the school in the business world according to real.
3.      Enlarging the knowledges.
4.      Enlarging the experiences before working in the next time.
5.      Enlarging the friends in business world.
6.      Knowing about the kind’s of production.
7.      Getting the certificate after finishing The Job Training.
C. Improvement.
            Following the Job Training for two months, student can enlarge their knowledges and experiences, also applied them in the real activity in a company. The knowledges and experiences very urgent to them if they work in a company in the next time, after graduate from school, they don’t study again in University. Beside, the students can write the report in Engling correctly and then can speak English well, because after writing this report, the students must present it.




CHAPTER IV
CLOSING

A.  Conclusion
      The conclusion of Job Training in Carrefour Solo Baru and this report are :
1.      Operating Cashier Machine is an applying from business machine theory in school.
2.      On The Job Training is a training of work in business or industrial world to student’s of vocational school.
3.      The theory in school can more details in industrial world, because it is applied directly.
4.      On The Job Training also can increase our confidence.
5.      On The Job Training can enlarge the knowledges of students.
B. Suggestion.
    The suggestion in Job Training are :
1.      The students must keep good attituted.
2.      The students must be diligent and tidy when do The Job Training.
3.      The students must be abidience to arrangement when Job Training.
4.      The teacher must monitor the students along The Job Training.




REFERENCES


Sutinah, Ertin . 2010 . Get Along With English for Vocational School Grade XII Intermediate Level . Jakarta : Erlangga.


Wojowarsito,S . 1980 . Dictionary of English - Indonesian and Indonesian – English . Bandung : Hasta.






APPENDIXES





Label:

  • Web
  • Blog Anda
  • Visitors

    About Me

    Endraswari Eskamurti
    A public administration student of Sebelas Maret University
    Lihat profil lengkapku

    Blog Search

    Entri Populer

    Followers

    ...cursor

    Diberdayakan oleh Blogger.