INFRASTRUKTUR: Pemerintah Siapkan Rp203,9 Triliun Bangun Infrastruktur


SOLO – Pemerintah melalui anggaran belanja dan pendapatan negara (APBN) siap menggelontor dana hingga Rp203,9 triliun untuk pembangunan infrastruktur tahun 2013. Sementara, total anggaran yang diperlukan mencapai Rp438,06 triliun.
Pembiayaan pembangunan infrastruktur itu juga mendapat dukungan dari investasi swasta yang diproyeksikan tahun ini mencapai nilai Rp60,2 triliun. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Armida S Alisjahbana, menyampaikan meskipun investasi infrastruktur mengalami peningkatan dari tahun ke tahun namun belum mencapai tingkat investasi sebelum krisis tahun 1997.
Dia mengatakan, pembangunan infrastruktur di Indonesia masih jauh di bawah kondisi yang diperlukan. Bahkan, satu tahun setelah krisis 1998 nyaris tidak ada pertumbuhan di bidang ini.
“Selama ini, perawatan atau maintanance infrastruktur masih sangat kurang. Minimnya regulasi menjadi salah satu pemicunya,” kata Armida, kepada wartawan, di sela-sela Seminar Nasional Pembangunan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Dalam RPJMN 2015-2019, yang diselenggarakan di FE UNS, Jumat (15/3/2013).
Dia menilai pasca otonomi daerah, pembangunan infrastruktur menjadi banyak yang timpang dan tidak merata. Salah satu contohnya adalah kondisi jalan nasional dengan jalan provinsi dan kabupaten/kota. Dia mengatakan, saat ini 90% jalan nasional dalam kondisi baik. Tetapi, jalan provinsi yang dalam kondisi baik hanya 50% dan jalan kabupaten 40%.
Armida melanjutkan, dengan sistem pemerintahan yang ada saat ini maka yang menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan infrastruktur adalah bagaimana menciptakan suatu sistem perencanaan pembangunan infrastruktur nasional yang dapat memadukan program nasional, regional dan lokal. Mekanisme pembiayaan, lanjut dia, juga menjadi isu penting.
“Bagaimana cara terbaik menggunakan dana yang sangat terbatas,” kata dia.
Seperti diketahui, porsi belanja modal dalam APBN sangat minim hanya sekitar 8,1%. Dengan kondisi ini pula, maka peran swasta dan masyarakat juga perlu ditingkatkan.
“Ini butuh terobosan. Maka kami menggandeng universitas untuk mencari solusi dan usulan bagaimana terobosan itu bisa terwujud. Salah satunya dengan UNS.”

Sumber : http://www.solopos.com/2013/03/15/infrastruktur-pemerintah-siapkan-rp2039-triliun-bangun-infrastruktur-388196?fb_action_ids=640733329286626&fb_action_types=og.likes&fb_source=timeline_og&action_object_map=%7B%22640733329286626%22%3A497910116938558%7D&action_type_map=%7B%22640733329286626%22%3A%22og.likes%22%7D&action_ref_map=%5B%5D

Label:

"Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras bisa menyesatkan.." 
"Jangan pula tertarik pada kekayaannya, karena kekayaan bisa musnah.."
"Tertariklah pada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyumlah yang dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah.."

Label:


“Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.” 

--Tere Liye, novel "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin"

Label:

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah.

Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.

--Tere Liye, novel 'Daun yang jatuh tak pernah membenci angin'

Label:

Pada suatu hari "Kematian" dan "Kehidupan" bertemu satu sama lain, lantas mereka ngobrol: 

Kematian : "Kenapa orang2 itu menyukai kamu, tapi mereka amat membenci aku?"  

Kehidupan (menjawab sambil tersenyum) : "Orang-orang menyukaiku karena aku adalah 'dusta yang indah', sedangkan mereka membencimu karena kamu adalah 'kebenaran yang menyakitkan'."

Label:

"Kita harus berani membuat terobosan. Jangan rutinitas. Jangan monoton. Harus ada perubahan, ADA INOVASI.. 

(jokowi)

Label:

Presentasi Dadakan EAP 211212 *Minority Group and Religious Unrest*

The persecution and harassment of the Ahmadiyah and other religious minorities in Indonesia have not yet been addressed and President Susilo Bambang Yudhoyono has put this problem on the back burner. The Myanmar government is not doing anything to resolve the problems facing the Muslim Rohingya.

Indonesia and Myanmar should learn from Vietnam. The Vietnamese government has not alienated any ethnic tribe in the country, and a good example of this comes from its treatment of the ethnic Hmong mountain tribes.

According to the English-language newspaper Vietnam News (Dec. 16) this ethnic nomadic tribe with their slash and burn agricultural techniques, have now settled in homes built for them by the government in mountainous regions in an effort to stop their agricultural techniques from destroying rainforests. The government has also allocated farmlands for each family.

Infrastructure was put into place enabling these people to easily reach nearby villages for their shopping. The military helped to improve their agricultural skills and now the Hmong tribes live peacefully, working hard on their farmlands. They are not suffering from hunger and malnutrition anymore. They are also allowed to practice their own religion i.e. Shamanism and worshipping the spirits of their ancestors.

Indonesia and Myanmar should follow the example of Vietnam. Although 85 percent of the population in Vietnam are Mahayana Buddhists, almost 10 percent are Christians (Roman Catholics, Protestants and Russian orthodox) with the rest either Muslim, Hindu, Cao Dai or Hoa Hao. No religious discrimination is allowed by the government and no religious unrest exists.

Each religious group is allowed to practice their own beliefs.

Label:

  • Web
  • Blog Anda
  • Visitors

    About Me

    Endraswari Eskamurti
    A public administration student of Sebelas Maret University
    Lihat profil lengkapku

    Blog Search

    Entri Populer

    Followers

    ...cursor

    Diberdayakan oleh Blogger.