Defining Public Administration

When people think about government, they think of elected officials. The attentive public knows these officials who live in the spotlight but not to public administrators who make governing possible; it generally give them little thought unless it is to critize "government burreaucrats".

We are contact with public administration almost from the moment of birth, when registration requirement are met, and our eartly cannot be disposed without final administrative certificate. Our experiences with public administration become so extensive that our society may be labeled the "administered society".

Various institution are involved in public administration.
Much of policy making-activities of public administration is done by large, specialized govermental agencies (micro administration). Some of them are mostly involved with policy formulation, for example Parliament, or Congress.

But to implement their decision, public administration also requires numerous profit and non profit agencies, banks and hospitals, districts and city governments (macro administration).

Thus, public administration may be defined as a complex political process involving the authoritative implementation of legitimated policy choiches.

Public administration is not as showy as other kinds of politics. Much of its works is quite, small scale, and specialized. Part of the administrative process is even keep secret. The anthonymity of public administration raises fears that government policies are made by people who are not accountable to citizen. Many fears that these so-called faceless bureaucrats subvert the intensions of elected officials. Other see administrators as mere cogs ini machinery of government.

But whether  in negative or positive sense, public administration is policy making. And whether close to the centers of power or at the street level in local agencies, public administrators are policy makers. They are the translators and tailors the governments. If the elected officials are visible to the public, public administrators are anonymous specialist. But without their knowledge, diligence, and creativity, government would be ineffective and inefficient.

Label: ,

Leadership


Leadership atau kepemimpinan sebenarnya tidak ditentukan dari suatu jabatan yang dimiliki oleh seseorang, melainkan suatu kemampuan untuk memimpin orang untuk mengikuti apa yang telah direncanakan.

Teori tentang kepemimpinan seringkali ditemui dalam buku, seminar, dan lain-lain. Namun sesungguhnya sesuatu teori yang diketahui tidak akan dapat diperoleh manfaatnya ketika tidak diaplikasikan dalam kehidupan.

Sederhana saja, ketika seseorang mempelajari teori berenang, maka ia tidak akan bisa berenang ketika ia hanya membaca saja dan tidak berlatih secara terus menerus. Begitupun dengan leadership, tidak akan berpengaruh apa-apa ketika kita tidak melatih jiwa kepemimpinan kita dari sekarang.

Pemimpin adalah orang yang diibaratkan sebagai "orang yang difollow", seorang pemimpin akan menjadi panutan. Dalam benak seseorang tentunya ingin menjadi orang yang di follow, bukan sekedar orang yang mem-follow. Tapi, bagaimana agar kita bisa menjadi panutan??? Yaitu dengan memantaskan diri untuk menjadi orang yang bisa memimpin.

Bagaimana kita dapat menjadi panutan ketika datang ke kampus atau ke seminar sekalipun dan kita hanya memilih untuk duduk di pojok paling belakang??? Padahal sosok pemimpin selalu di depan. Cara pandang yang seperti itulah pantas untuk diubah menjadi cara pandang seorang pemimpin.

Pentingnya memiliki sikap kepemimpinan dapat dilihat dari VUCA.
Teori "VUCA" yang merupakan singkatan dari Vollantility, Uncertaintly, Complexity, dan Ambiguity.
Vollantility berarti perubahan yang terjadi secara terus-menerus secara alami, dan bisa terjadi karena perkembangan zaman. Misalnya di lagu "Bangun tidur ku terus mandi", sekarang setiap bangun tidur mayoritas dari seseorang tidak langsung mandi, malah langsung buka BBM.
Uncertaintly berarti tidak pasti. Hidup penuh dengan ketidakpastian, sehinnga orang harus senantiasa kreatif untuk menghadapi esok hari berserta perubahannya dengan siap.
Complexity, hidup pada dasarnya merupakan sesuatu yang kompleks.
Sedangkan Ambiguity berarti ambigu, atau dapat berupa multitafsir dalam segala hal.

Sehinnga pada dasarnya, hal-hal yang tidak pasti dalam teori VUCA dapat diatasi ketika orang memiliki jiwa kepemimpinan dan percaya diri.

Kepemimpinan merupakan kombinasi dari strategi dan karakter, sehingga ketika seseorang telah mengasah karakternya, ia akan mencari strategi untuk menciptakan suatu peluang, bahkan untuk menjadi seseorang yang beda. Menjadi beda memang penting, namun beda yang dimaksud tetap beda tetapi tetap melaksanakan sesuatu dengan benar.

Mengasah kepemimpinan ini dapat dilakukan dengan BELAJAR, BERANI, dan BELAJAR SAMBIL DIJALANI.

More Lesson, More Practice


(seminar leadpreneurship 200413, dengan pengembangan)

INFRASTRUKTUR: Pemerintah Siapkan Rp203,9 Triliun Bangun Infrastruktur


SOLO – Pemerintah melalui anggaran belanja dan pendapatan negara (APBN) siap menggelontor dana hingga Rp203,9 triliun untuk pembangunan infrastruktur tahun 2013. Sementara, total anggaran yang diperlukan mencapai Rp438,06 triliun.
Pembiayaan pembangunan infrastruktur itu juga mendapat dukungan dari investasi swasta yang diproyeksikan tahun ini mencapai nilai Rp60,2 triliun. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Armida S Alisjahbana, menyampaikan meskipun investasi infrastruktur mengalami peningkatan dari tahun ke tahun namun belum mencapai tingkat investasi sebelum krisis tahun 1997.
Dia mengatakan, pembangunan infrastruktur di Indonesia masih jauh di bawah kondisi yang diperlukan. Bahkan, satu tahun setelah krisis 1998 nyaris tidak ada pertumbuhan di bidang ini.
“Selama ini, perawatan atau maintanance infrastruktur masih sangat kurang. Minimnya regulasi menjadi salah satu pemicunya,” kata Armida, kepada wartawan, di sela-sela Seminar Nasional Pembangunan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Dalam RPJMN 2015-2019, yang diselenggarakan di FE UNS, Jumat (15/3/2013).
Dia menilai pasca otonomi daerah, pembangunan infrastruktur menjadi banyak yang timpang dan tidak merata. Salah satu contohnya adalah kondisi jalan nasional dengan jalan provinsi dan kabupaten/kota. Dia mengatakan, saat ini 90% jalan nasional dalam kondisi baik. Tetapi, jalan provinsi yang dalam kondisi baik hanya 50% dan jalan kabupaten 40%.
Armida melanjutkan, dengan sistem pemerintahan yang ada saat ini maka yang menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan infrastruktur adalah bagaimana menciptakan suatu sistem perencanaan pembangunan infrastruktur nasional yang dapat memadukan program nasional, regional dan lokal. Mekanisme pembiayaan, lanjut dia, juga menjadi isu penting.
“Bagaimana cara terbaik menggunakan dana yang sangat terbatas,” kata dia.
Seperti diketahui, porsi belanja modal dalam APBN sangat minim hanya sekitar 8,1%. Dengan kondisi ini pula, maka peran swasta dan masyarakat juga perlu ditingkatkan.
“Ini butuh terobosan. Maka kami menggandeng universitas untuk mencari solusi dan usulan bagaimana terobosan itu bisa terwujud. Salah satunya dengan UNS.”

Sumber : http://www.solopos.com/2013/03/15/infrastruktur-pemerintah-siapkan-rp2039-triliun-bangun-infrastruktur-388196?fb_action_ids=640733329286626&fb_action_types=og.likes&fb_source=timeline_og&action_object_map=%7B%22640733329286626%22%3A497910116938558%7D&action_type_map=%7B%22640733329286626%22%3A%22og.likes%22%7D&action_ref_map=%5B%5D

Label:

"Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras bisa menyesatkan.." 
"Jangan pula tertarik pada kekayaannya, karena kekayaan bisa musnah.."
"Tertariklah pada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyumlah yang dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah.."

Label:


“Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.” 

--Tere Liye, novel "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin"

Label:

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah.

Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.

--Tere Liye, novel 'Daun yang jatuh tak pernah membenci angin'

Label:

Pada suatu hari "Kematian" dan "Kehidupan" bertemu satu sama lain, lantas mereka ngobrol: 

Kematian : "Kenapa orang2 itu menyukai kamu, tapi mereka amat membenci aku?"  

Kehidupan (menjawab sambil tersenyum) : "Orang-orang menyukaiku karena aku adalah 'dusta yang indah', sedangkan mereka membencimu karena kamu adalah 'kebenaran yang menyakitkan'."

Label:

  • Web
  • Blog Anda
  • Visitors

    About Me

    Endraswari Eskamurti
    A public administration student of Sebelas Maret University
    Lihat profil lengkapku

    Blog Search

    Entri Populer

    Followers

    ...cursor

    Diberdayakan oleh Blogger.